Sejak VOC didirikn 400 tahun lalu, banyak tim ekspedisi belanda berdatangan di nusantara. Mereka selama satu setengah abad dating disertai wanita. Mengingat waktu itu perjalanan dari eropa memerlukan waktu paling cepat 6 bulan. Itupun masih harus menghadapi berbagai resiko, berupa musibah di laut seperti perompkan. Belum lagi menghadapi segala macam penyakit selama pelayaran yang jauh. Karena itu banyak orang belanda yang mengawini wanita pribumi atau mengambil istri piaraan yang disebut nyai atau gundik . umumnya para budak, karena para wanita islam umumnya tidak bersedia berpasangan dengan orang nasrani atau budha ( china ) yang juga datang tanpa istri. Karena wanita islam yang melakukan hal itu ditolak keluarga, dan dianggap bukan keluarga lagi.
Itulah yang menyebabkan dasima, seorang nayi dari desa kuripan, ciseeng, bogor. Rela meninggalkan suaminya yang kaya raya. Ia rela menjadi istri samiun tukang sado dari kwitang. Jakarta pusat, setelah diingatkan haram hukumnya mengawini pria yang tidak seiman, apalagi menjadi gundik tanpa dinikahi.
Para indo belanda, anak-anak hasil perkawinan dengan nyai atau gundik diperlakukan sebagai penduduk kelas dua bahkan kelas tiga atau empat. Para wanita belanda baru banyak berdatangan di Batavia setelah dibukanya terusan suez ( 1869 ). Karena pelayaran lebih cepat lancer dan murah dengan kapal uap pelayaran dari Amsterdam ke baatavia hanya perlu waktu satu bulan dengan biaya 1.000 sampai 2.000 gulden. Waktu itu mereka tidak hidup seperti di abad ke-17 dan ke-18 dalam sebuuah kota yang dibatasi benteng ( tembok ). Karena sejak awal abad ke-19 gubernur jenderal Willem Herman daendels sudah memindahkan ke Weltevreden ( daerah lebih nyaman ).
Di daerah baru ini jaraknya hanya belasan kilometer ke selatan Jakarta kota, ia membangun istana putih ( white house ) kini ditempati departemen keuangan. Di depanya ia membaangun lapangan parade. Karena belanda pernah ditaklukan napoleon pemerinyah belanda pada 1828 mendirikan waterloo. Monument ini merupakan ejekan atas kekalahan kaisar perancis itu di waterloo ( belgia ). Diatas monument terdapat patung seekor singa. Kemudian lapangan itu juga disebut lapangan singa. Monument ini diruntuhkan pada masa pendudukan jepang ( 1942-1945 ) setelah kemerdekaan bung karno menamakanya lapangaan banteng merupakan lambing nasionalisme bangsa Indonesia. “ kita adalah bangsa banteng bukan bangsa tempe” itulah kata-kata yang sering diucapkan soekarno.
Konon pada pemilu 1955, dalam suatu kampanye PKI dilapangan ini, salah seorang pembicara mengatakan “saudara-saudara jangan memilih partai islam karena nantinya lapangan banteng diubah namanya menjadi lapangan onta”. Tentu saja ini merupakan joke politik guna mengembosi partai lain.
Sampai 1970-an di lapaangan banteng terdapat banyak kompleks militer. Di jln kwini bagian belakang hotel Borobudur dulunya merupakan salah satu markas mariner sebelum dibangun hotel berbintang lima pada 1960-an terdapat barak-barak dan perumahan militer di daerah ini sampai 1970-an terdapat markas Kodam V jaya yang kini menjadi bagian mesjid istiqlal bahkan dilokasi departemen agama, dulunya merupkan perumahan para perwira hngga dinamakan jalan perwira, belanda juga membangun sebuah rumah sakit militer yang besar yang kini menjadi rumah sakit militer angkatan darat gatot subroto, di dekatnya terdapat batalyon 10, dengan perumahan militer juga terdapat jl siliwangi berdekatan dengan istana daendels yang kini menjadi bagian dari atrium itu.
Di abad ke-19 tiap ahad sore dilapangan benteng diadakan parade militer. Disini merupakan wanita dan pria belanda untuk saling bertemu. Sigadis yang datang dengan kuda berdandan dengan seelk mungkin dengan gaaya anita burjois berusaha memikat pria yang datang dengan menunggang kuda. Sementara club Concordia di jalan lapangan banteng. Beersama dengan klub harmonie menjadi tempat pesta [aling menarik di weltevreden. Di clib yang semula di peruntukan bagi tempat hibura para militer bersama shouwburg ( kni gedung kesenian ) di pasar bar, kala itu sering disajikan opera Verdi. Atau Othello karya William shakepeare. Sementara para wanitanya datang di pesta Concordia dengan busana mode terbaru dari paris, London atau brussel demikian tulis seorang pengunjung 1862. Grup ini merupakan sayap paling kiri dari gedung depkeu. Pada masa RIS pernah dignaakan sebagai tempat siding para wakil-wakil rakyat sebelum mereka pindah ke senayan.
Dengan belasan hotel dan berbagai tempat hiburan bermutu, sekonyong-konyong Batavia mendapatkan kembali pamornya “Ratu dari Timur” sehingga memikat para pengunjung dari siingapura untunk mendatanginya mereka dalam perjalanan wisata juga mengunjungi buitenzorg ( bogor ) dan daerah peranginan puncak yang tidak meereka dapati dikoloni inggris itu.
Di kutip dari buku Betawi Queen Of The East, Republika 2002
Itulah yang menyebabkan dasima, seorang nayi dari desa kuripan, ciseeng, bogor. Rela meninggalkan suaminya yang kaya raya. Ia rela menjadi istri samiun tukang sado dari kwitang. Jakarta pusat, setelah diingatkan haram hukumnya mengawini pria yang tidak seiman, apalagi menjadi gundik tanpa dinikahi.
Para indo belanda, anak-anak hasil perkawinan dengan nyai atau gundik diperlakukan sebagai penduduk kelas dua bahkan kelas tiga atau empat. Para wanita belanda baru banyak berdatangan di Batavia setelah dibukanya terusan suez ( 1869 ). Karena pelayaran lebih cepat lancer dan murah dengan kapal uap pelayaran dari Amsterdam ke baatavia hanya perlu waktu satu bulan dengan biaya 1.000 sampai 2.000 gulden. Waktu itu mereka tidak hidup seperti di abad ke-17 dan ke-18 dalam sebuuah kota yang dibatasi benteng ( tembok ). Karena sejak awal abad ke-19 gubernur jenderal Willem Herman daendels sudah memindahkan ke Weltevreden ( daerah lebih nyaman ).
Di daerah baru ini jaraknya hanya belasan kilometer ke selatan Jakarta kota, ia membangun istana putih ( white house ) kini ditempati departemen keuangan. Di depanya ia membaangun lapangan parade. Karena belanda pernah ditaklukan napoleon pemerinyah belanda pada 1828 mendirikan waterloo. Monument ini merupakan ejekan atas kekalahan kaisar perancis itu di waterloo ( belgia ). Diatas monument terdapat patung seekor singa. Kemudian lapangan itu juga disebut lapangan singa. Monument ini diruntuhkan pada masa pendudukan jepang ( 1942-1945 ) setelah kemerdekaan bung karno menamakanya lapangaan banteng merupakan lambing nasionalisme bangsa Indonesia. “ kita adalah bangsa banteng bukan bangsa tempe” itulah kata-kata yang sering diucapkan soekarno.
Konon pada pemilu 1955, dalam suatu kampanye PKI dilapangan ini, salah seorang pembicara mengatakan “saudara-saudara jangan memilih partai islam karena nantinya lapangan banteng diubah namanya menjadi lapangan onta”. Tentu saja ini merupakan joke politik guna mengembosi partai lain.
Sampai 1970-an di lapaangan banteng terdapat banyak kompleks militer. Di jln kwini bagian belakang hotel Borobudur dulunya merupakan salah satu markas mariner sebelum dibangun hotel berbintang lima pada 1960-an terdapat barak-barak dan perumahan militer di daerah ini sampai 1970-an terdapat markas Kodam V jaya yang kini menjadi bagian mesjid istiqlal bahkan dilokasi departemen agama, dulunya merupkan perumahan para perwira hngga dinamakan jalan perwira, belanda juga membangun sebuah rumah sakit militer yang besar yang kini menjadi rumah sakit militer angkatan darat gatot subroto, di dekatnya terdapat batalyon 10, dengan perumahan militer juga terdapat jl siliwangi berdekatan dengan istana daendels yang kini menjadi bagian dari atrium itu.
Di abad ke-19 tiap ahad sore dilapangan benteng diadakan parade militer. Disini merupakan wanita dan pria belanda untuk saling bertemu. Sigadis yang datang dengan kuda berdandan dengan seelk mungkin dengan gaaya anita burjois berusaha memikat pria yang datang dengan menunggang kuda. Sementara club Concordia di jalan lapangan banteng. Beersama dengan klub harmonie menjadi tempat pesta [aling menarik di weltevreden. Di clib yang semula di peruntukan bagi tempat hibura para militer bersama shouwburg ( kni gedung kesenian ) di pasar bar, kala itu sering disajikan opera Verdi. Atau Othello karya William shakepeare. Sementara para wanitanya datang di pesta Concordia dengan busana mode terbaru dari paris, London atau brussel demikian tulis seorang pengunjung 1862. Grup ini merupakan sayap paling kiri dari gedung depkeu. Pada masa RIS pernah dignaakan sebagai tempat siding para wakil-wakil rakyat sebelum mereka pindah ke senayan.
Dengan belasan hotel dan berbagai tempat hiburan bermutu, sekonyong-konyong Batavia mendapatkan kembali pamornya “Ratu dari Timur” sehingga memikat para pengunjung dari siingapura untunk mendatanginya mereka dalam perjalanan wisata juga mengunjungi buitenzorg ( bogor ) dan daerah peranginan puncak yang tidak meereka dapati dikoloni inggris itu.
Di kutip dari buku Betawi Queen Of The East, Republika 2002
1 komentar:
Posting Komentar